Selama lebih dari lima belas tahun, Sheikh Hasina memerintah Bangladesh dengan kekuasaan yang hampir tak tertandingi. Menjabat dari tahun 2009 hingga 2024 (setelah pertama kali menjabat singkat pada 1996-2001), kepemimpinannya bersamaan dengan pertumbuhan infrastruktur yang cepat, peningkatan ketenaran global, dan lapisan stabilitas bagi negara tersebut. Namun di balik fasad ini terdapat tumpukan tuduhan tentang penurunan demokrasi, pelanggaran hak asasi manusia, dan represi terhadap pendapat.
Kenaikan dan konsolidasi kekuasaan
Lahir pada tahun 1947, Hasina adalah putri dari bapak pendiri Bangladesh, Sheikh Mujibur Rahman. Partainya, Liga Awami, telah menjadi kekuatan sentral dalam politik Bangladesh sejak kemerdekaan. Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan Hasina semakin dominan: pemilu secara berulang kali dimenangkan oleh partainya di tengah kritik dari kelompok oposisi tentang keadilan dan penindasan.
Para pendukungnya mengkreditkannya dengan peluncuran proyek-proyek infrastruktur besar, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan mengarahkan Bangladesh ke era baru investasi asing dan relevansi regional. Namun akumulasi kekuasaan juga menimbulkan kekhawatiran: ruang yang menyusut bagi oposisi, pembatasan media, dan tuduhan berulang tentang paksaan yang didukung negara. Organisasi hak asasi manusia menyoroti pola penghilangan paksa, pengadilan yang dimotivasi secara politik, dan penindasan protes.
Pemberontakan yang mengubah permainan
Pada pertengahan 2024, Bangladesh mengalami gelombang ketidakpuasan yang akan mengubah jalur politiknya. Awalnya dipicu oleh keluhan mahasiswa tentang kuota pekerjaan dalam pelayanan sipil, protes tersebut dengan cepat berkembang menjadi apa yang sekarang disebut Revolusi Juli (Bangladesh) — pemberontakan nasional terhadap pemerintahan Hasina.
Tanggapan negara sangat keras. Pasukan keamanan menggunakan amunisi tajam, helikopter, dan drone; puluhan — mungkin ratusan atau lebih — demonstran tewas. Menurut laporan, lebih dari 1.400 orang mungkin telah kehilangan nyawa.
Skala dan kebrutalan dari tindakan keras tersebut memicu krisis legitimasi bagi pemerintahan Hasina.
Pada 5 Agustus 2024, dikelilingi oleh demonstrasi massal dan tekanan yang meningkat, Sheikh Hasina mengundurkan diri dan melarikan diri dari negara, dilaporkan ke India. Kepergiannya efektif mengakhiri pemerintahannya yang tak terputus dan memicu pembentukan pemerintahan sementara yang dipimpin oleh pemenang Nobel Perdamaian, Muhammad Yunus.
Perhitungan hukum dan vonis
Setelah digulingkannya, sejumlah tindakan hukum diluncurkan terhadap Hasina dan rekan-rekannya. Pada Mei 2025, pemerintahan sementara Bangladesh melarang kegiatan Liga Awami berdasarkan Undang-Undang Anti-Terorisme negara tersebut, dengan menyebut peran rezim sebelumnya dalam protes mematikan.
Paling tajam, pada November 2025 sebuah pengadilan khusus di Dhaka menjatuhkan vonis mati in absentia kepada Sheikh Hasina atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Putusan tersebut menyatakan bahwa dia telah memerintahkan dan mengotorisasi penggunaan kekerasan mematikan terhadap para demonstran dalam pemberontakan 2024.
Dia telah mengecam persidangan tersebut sebagai bermotivasi politik, sementara pemerintahan sementara menyebutnya sebagai langkah akuntabilitas yang diperlukan.
Apa artinya ini bagi Bangladesh
Jatuhnya Sheikh Hasina adalah sejarah — sedikit pemimpin jangka panjang dari jenisnya yang telah digulingkan dengan begitu tegas, apalagi diadili dan dihukum atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Bagi Bangladesh, implikasinya sangat dalam:
Babak baru politik mungkin akan terbuka, di mana partai oposisi mengharapkan ruang yang lebih bebas dan generasi muda menuntut lebih banyak transparansi.
Namun, transisi ini datang dengan risiko: ketidakstabilan politik, potensi reaksi dari loyalis rezim sebelumnya, dan ketidakpastian ekonomi saat kepercayaan bisnis menyesuaikan diri dengan ketidakpastian dari tatanan baru.
Secara internasional, citra Bangladesh berada dalam pergolakan. Sekali dipuji karena kemajuan ekonomi, kini berada di persimpangan antara membongkar warisan otoriter dan membuktikan komitmennya pada norma demokratis dan hak asasi manusia.
Warisan dua sisi
Warisan Sheikh Hasina akan diperdebatkan selama beberapa dekade. Di satu sisi, dia meninggalkan bekas — Bangladesh di bawah kepemimpinannya menjadi lebih terhubung secara global, membangun infrastruktur besar, dan mengangkat banyak orang dari kemiskinan. Di sisi lain, metode yang digunakannya — kekuasaan yang semakin terpusat, oposisi politik yang terbatas, dan represi yang keras — kini menentukan kejatuhannya.
Para pendukung melihat penggulingan dan vonisnya sebagai ketidakadilan — pembersihan yang didorong politik oleh saingan. Kritikus melihatnya sebagai keadilan yang sudah seharusnya, sebuah pesan bahwa bahkan pemimpin yang paling tertanam dapat dimintai pertanggungjawaban.
Apa yang selanjutnya?
Bangladesh kini bersiap untuk pemilihan baru, diproyeksikan pada April 2026, di bawah pemerintahan sementara.
Lanskap politik telah bergeser: partai pemerintah yang dilarang, seorang pemimpin dalam pengasingan, proses hukum yang terus berlanjut — semuanya di tengah masyarakat yang terbangun oleh gerakan yang dipimpin oleh pemuda. Apakah negara ini dapat memanfaatkan momentum ini untuk membangun kembali lembaga-lembaga demokratis, melindungi kebebasan sipil, dan mengembalikan momentum ekonomi, masih harus dilihat.
Bagi Sheikh Hasina, pengasingan di luar negeri dan menghadapi hukuman mati, babak penutup dari kehidupan politiknya tidak seperti yang pernah dia lalui sebelumnya. Tetapi dalam cerita yang lebih besar Bangladesh, kejatuhannya mungkin menandai titik balik — dari pemerintahan oleh seorang pemimpin dominan menjadi politik yang lebih terbuka, diperebutkan.
Saat Bangladesh melangkah maju, harapan jutaan orang — terutama para pemuda yang bangkit dalam protes — bergantung pada satu pertanyaan: apakah negara ini dapat menetapkan jalur baru yang memberikan akuntabilitas tanpa kekacauan, reformasi tanpa regresi? Jawaban akan menentukan bukan hanya warisan Sheikh Hasina, tetapi juga masa depan Bangladesh itu sendiri.
