{"id":15532,"date":"2026-10-27T03:16:36","date_gmt":"2026-10-26T16:16:36","guid":{"rendered":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/penghargaan-perdamaian-fifa-untuk-trump-menuai-kecaman-namun-sepak-bola-masih-bisa-memberi-penghargaan-itu-makna\/"},"modified":"2026-10-27T03:16:36","modified_gmt":"2026-10-26T16:16:36","slug":"penghargaan-perdamaian-fifa-untuk-trump-menuai-kecaman-namun-sepak-bola-masih-bisa-memberi-penghargaan-itu-makna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/penghargaan-perdamaian-fifa-untuk-trump-menuai-kecaman-namun-sepak-bola-masih-bisa-memberi-penghargaan-itu-makna\/","title":{"rendered":"Penghargaan Perdamaian FIFA untuk Trump Menuai Kecaman\u2014Namun Sepak Bola Masih Bisa Memberi Penghargaan Itu Makna"},"content":{"rendered":"<p>Penghargaan perdamaian pertama FIFA dimaksudkan untuk menyampaikan pesan besar. Namun, penyerahannya kepada Presiden AS Donald Trump justru menjadi ujian tentang seberapa besar kredibilitas yang rela dikorbankan badan pengatur sepak bola itu demi akses politik sesaat. Penghargaan tersebut menuai kecaman karena tampak bukan sebagai pengakuan yang diraih berkat rekam jejak perdamaian yang jelas, melainkan pujian yang dirancang dengan cermat untuk seorang tuan rumah berpengaruh. Bagi para penggemar, pertanyaan yang mengusik adalah apakah jangkauan global sepak bola masih bisa membuat penghargaan itu bermakna. Hal ini penting karena Piala Dunia bukan sekadar turnamen; ajang itu merupakan panggung yang disaksikan lintas negara.<\/p>\n<p>Presiden FIFA Gianni Infantino telah lama menggambarkan olahraga ini sebagai kekuatan yang mampu menyatukan orang-orang, dan pesan itu bukanlah omong kosong. Di lapangan, mulai dari taman lingkungan hingga stadion Piala Dunia yang penuh sesak, para pemain berbagi aturan dan berkompetisi dalam pertandingan yang dapat melampaui batas bahasa, kelas sosial, dan politik. Namun, penghargaan perdamaian membutuhkan lebih dari sekadar slogan yang mulia: penghargaan itu memerlukan standar yang transparan, penilaian independen, serta bukti bahwa penerimanya membantu meredakan konflik atau membangun pemahaman. Jika tolok ukur tersebut tidak jelas, trofi itu berisiko menjadi sekadar properti panggung, sementara lembaga yang memberikannya bisa tampak lebih menghargai kedekatan dengan kekuasaan daripada kepercayaan publik.<\/p>\n<p>Itulah sebabnya keputusan tersebut menjadi lebih dari sekadar seremoni yang canggung. Penghargaan yang menyandang nama FIFA mengundang sorotan dari para pendukung yang berharap organisasi itu mengabdi pada sepak bola, bukan menyanjung para pemimpin politik atau memajukan kepentingan para petingginya sendiri. Hubungan Infantino dengan Trump menjadi perhatian ketika Amerika Serikat bersiap menjadi tuan rumah Piala Dunia putra 2026 bersama Kanada dan Meksiko. Dalam situasi seperti itu, bahkan kesan adanya perhitungan politik dapat menutupi janji utama sepak bola: sebuah tontonan bersama, tempat para pemain\u2014bukan orang-orang berkuasa\u2014menjadi pusat perhatian.<\/p>\n<p>Reaksi keras itu bukan berarti sepak bola harus meninggalkan gagasan tersebut. Ajang olahraga tidak bisa mengakhiri perang dengan sendirinya, dan sejarah sepak bola juga mencakup pengucilan, nasionalisme, serta konflik, selain momen-momen solidaritas. Namun, olahraga ini dapat menciptakan ruang pertemuan yang langka: komunitas yang bersaing di tribun, anak-anak muda dalam satu tim, serta para pemain yang perjalanan hidupnya menghubungkan negara-negara yang jarang memiliki kesamaan. Upaya-upaya itu memang terbatas jika dibandingkan dengan diplomasi, tetapi nyata, terlihat, dan layak mendapat pengakuan ketika menghasilkan kerja yang berdampak jangka panjang. Penghargaan yang berlandaskan bukti semacam itu dapat memberi alasan bagi para penggemar untuk menganggapnya serius.<\/p>\n<p>Komite tanggung jawab sosial FIFA kini memiliki kesempatan untuk membangun ulang penghargaan tersebut, alih-alih membela pilihan pertamanya. Komite itu dapat menerbitkan aturan kelayakan yang jelas, membuka pencalonan dari kelompok masyarakat dan organisasi kemanusiaan, serta menunjuk panel independen dengan keahlian di luar ruang rapat petinggi sepak bola. Komite dapat menilai kerja yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu, bukan memberi penghargaan demi tajuk berita atau satu gestur politik, serta menjelaskan secara terbuka alasan pemilihan pemenang. Langkah-langkah pengaman seperti itu tidak akan menghapus perbedaan pendapat, tetapi akan membuat penghargaan tersebut bertanggung jawab kepada orang-orang yang kepercayaannya memberi FIFA jangkauan luas.<\/p>\n<p>Kandidat terkuat mungkin bukan presiden atau selebritas. Mereka bisa saja pelatih yang menjaga agar anak-anak dari komunitas yang berseberangan tetap bermain bersama, penyelenggara yang membuat lapangan aman bagi anak perempuan, atau mantan pemain yang memanfaatkan pengaruhnya untuk mendukung rekonsiliasi setelah kekerasan. Kerja mereka jarang menghasilkan penyambutan megah atau kesempatan berfoto yang mendunia; dampaknya terlihat dari hubungan yang terjalin dan kesempatan yang terlindungi. Mengakui kerja tersebut akan menghubungkan penghargaan itu dengan para pendukung biasa yang memberi sepak bola maknanya, sekaligus menunjukkan bagaimana pengaruh olahraga ini dapat melampaui peluit akhir.<\/p>\n<p>Bagi para penggemar, taruhannya lebih besar daripada satu medali atau satu siklus pemberitaan. Penghargaan perdamaian yang kredibel dapat merayakan kemenangan-kemenangan kecil yang membuat sepak bola berarti: sebuah tim yang diterima di tengah perpecahan, pemain muda yang menemukan rasa memiliki, atau komunitas yang memilih kerja sama daripada kecurigaan. FIFA tidak bisa begitu saja menyatakan bahwa sepak bola adalah kekuatan perdamaian lalu berharap mendapat tepuk tangan; FIFA harus membuktikan klaim itu melalui pilihan yang adil dan standar yang jujur. Penghargaan untuk Trump bermula di tengah keraguan. Apakah penghargaan itu akan mendapat penghormatan di kemudian hari bergantung pada kemampuan FIFA mengubah penghormatan yang tampak politis menjadi pengakuan atas pengabdian yang nyata.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penghargaan perdamaian pertama FIFA, yang diberikan kepada Donald Trump, digambarkan sebagai penghormatan bermotif politik yang menyanjung presiden AS itu sekaligus menguntungkan Gianni Infantino. Kini berada di bawah komite tanggung jawab sosial FIFA, penghargaan tersebut dapat dibangun ulang untuk mengakui kontribusi nyata bagi perdamaian dan kekuatan positif sepak bola.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":15527,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-15532","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sport"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15532","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15532"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15532\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15527"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15532"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15532"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/id.freemarkettimes.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15532"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}